Producer: Sheila Timothy, Vino G. Bastian
Director: Adriyanto Dewo
Writer: Tumpal Tampubolon
Starring: Jimmy Kobogau (Hans), Dewi Irawan (Mak), Ozzol Ramdan (Natzir), Yayu Unru (Parmanto)
Music: Indra Perkasa
Genre: Family Drama
Kisah seorang pemuda dari Serui, Papua yang di perankan oleh Hans yang memiliki mimpi untuk menjadi seorang pemain bola profesional. Namun nasib berkata lain dan dia mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Di saat itu, ia bertemu dengan Mak ( dewi Irawan) yang memiliki restoran Minang yang baik hati menolongnya, yang kemudian menjadi juru masak di restoran Minang tersebut. Mimpi dan semangat untuk hidup yang sekali lagi dinyalakan Hans melalui makanan dan memasak makanan adalah niat baik yang menyatukan mereka, sesuai dengan judulnya Tabula Rasa " memulai sesuatu tanpa prasangka.
" Makanan adalah itikat baik untuk bertemu". ya tentu saja makanan menjadi fokus dalam film ini, karena film ini mengangkat tentang perpaduan budaya Indonesia bagian Barat dan Timur lebih spesifiknya budaya Minang dan budaya Papua.
Hans adalah pemain sepakbola yang terpilih untuk bergabung dalam sebuah tim di Jakarta, sehingga ia berangkat ke jakarta untuk menjadi menjadi bola, namun suatu ketika ia mengalami cidera kaki dan kemudian ia di keluarkan dari club tersebut dengan alasan karena mereka tidak sanggup membiayainya. hal ini tentu membuat Hans menjadi patah semangat dan bingung akan tujuan hidupnya sehingga ia menjadi gelandangan dan sempat ingin bunuh dari atas jembatan d stasiun rel KA. Namun nasib berkata lain dan percobaan bunuh diri tersebut gagal dan ia bertemu dengan Mak seorang pemilik warung masakan padang. Setelah Hans di bawah ke rumah, ia bertemu dengan seorang koki , dan tentunya koki tsb tidak mau dia bekerja di situ. Warung makan Padang ini mempunyai Koki bernama Parmanto.
Karena sudah lama bekerja pada rumah makan ini maka timbullah sombong pada diri sang koki tersebut terbukti dari ucapannya: “Kayu saja bisa saya bikin jadi Rendang”. Padahal pemilik warung hanya menginginkan Hans sebagai pembantu yang dibayar dengan makan sampai dapat pekerjaan yang layak.
Timbullah perselisihan paham ditambah dengan dibangunnya Rumah Makan Padang yang baru tidak jauh dengan lokasi rumah makan padang mereka. Karena kesombongan dan tuntutan ekonomi maka Parmanto melamar ke rumah makan yang baru tersebut. Terpaksalah Mak mengajari Hans memasak.
Suatu kali, Hans, Mak, dan natzir mencoba masakan di restoran baru. Setelah Mak makan, rasa makanan tersebut tidak asing lagi dan kemudian ia ke dapur, ternyata Parmanto berhianat kepadanya dengan memakai resep masakan Mak dulu. Mak menjadi kecewa dan tidak mau lagi melanjutkan usahanya, namun Hans menjadi penyemangat baginya dan kemudian Mak mengajari hans masakan Gule kepala ikan yang sebenarnya resep tersebut tidak ia jual, namun ia percaya kepada Hans dan sejak pertama hans k rumah makan mak, ia di suguhi makanan tersebut karena hari itu adalah hari ulang tahun anaknya yang sudh meninggal dan menjadi spesial bagi mak, sehingga ia menyuguhkan makanan yang spesial juga.
Sehingga suau saat Mak sakit dan rumah makannya sedang menerima banyak pesanan makanan, namun mereka kekurangan koki. Sebenarnya hans berat untuk meminta bantuan Parmanto yang sudah menghianati mereka, namun ia mencoba untuk memberanikan diri, akhirnya melalui kejadian itu, hubungan parmanto dan Mak kembali rukun melalui hans.
Adegan yang menurut saya paling lucu adalah ketika Parmanto selesai memasak dan bilang kepada Hans kalau “ Rumah makan padang juru masaknya orang Papua “ :D hahaha
Film ini patut di acungin jempol karena banyak hal sosial yang di angkat seperti cita- cita , kegagalan, usaha, balas budi , hubungan pertemanan, keluarga , dan juga satu hal penting yang saya ambil dari film ini adalah jangan menilai seseorang dari luarnya saja, sebelum kita tahu sifat dalamnya seperti apa … eaaaaaaa hehe
sekian review dari saya :))


